Misi Iwakura: Tujuan, Tokoh Penting, dan Dampaknya Buat Jepang (Wajib Tau!)

Table of Contents

Misi Iwakura adalah sebuah ekspedisi diplomatik dan studi besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Jepang di awal era Meiji. Misi ini berangkat pada akhir tahun 1871 dan kembali pada September 1873, menghabiskan waktu hampir dua tahun berkeliling dunia. Dipimpin oleh beberapa pejabat tinggi negara, termasuk Iwakura Tomomi sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Wakil, misi ini bertujuan untuk belajar langsung dari peradaban Barat yang maju.

Misi Iwakura Delegates
Image just for illustration

Ekspedisi ini dianggap sebagai salah satu langkah paling krusial dan berpandangan jauh ke depan yang diambil oleh para pemimpin Restorasi Meiji. Bayangkan saja, di saat Jepang baru saja membuka diri setelah periode isolasi panjang di bawah Keshogunan Tokugawa, mereka langsung mengirim rombongan besar berisi pejabat penting untuk melihat dunia luar. Ini menunjukkan betapa seriusnya Jepang dalam upaya mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat yang saat itu sudah jauh lebih kuat dan modern.

Mengapa Misi Ini Perlu Dilakukan?

Konteks historis Misi Iwakura sangat penting untuk dipahami. Jepang baru saja mengalami Restorasi Meiji pada tahun 1868, yang mengakhiri kekuasaan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan nominal kepada Kaisar Meiji. Namun, perubahan ini terjadi di tengah tekanan besar dari kekuatan-kekuatan Barat. Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya telah memaksa Jepang untuk menandatangani “perjanjian tidak setara” (unequal treaties) pada tahun-tahun sebelumnya.

Perjanjian-perjanjian ini memberikan hak istimewa kepada warga negara asing di Jepang, seperti hak ekstrateritorialitas (mereka tidak tunduk pada hukum Jepang) dan pembatasan tarif impor. Para pemimpin Meiji menyadari bahwa Jepang sangat lemah dibandingkan dengan Barat, baik secara militer maupun ekonomi. Mereka takut Jepang akan bernasib sama seperti negara-negara Asia lainnya yang jatuh di bawah kekuasaan kolonial Barat.

Untuk menghindari nasib tersebut, Jepang harus segera memodernisasi diri dan menjadi kuat agar bisa bernegosiasi dengan posisi setara dengan Barat. Misi Iwakura lahir dari kebutuhan mendesak ini: mempelajari rahasia kekuatan Barat dan mencoba menegosiasikan kembali perjanjian-perjanjian yang tidak adil tersebut.

Siapa Saja Anggota Misi Iwakura?

Misi ini bukanlah rombongan kecil, lho. Selain Iwakura Tomomi, ada empat wakil duta besar lainnya yang merupakan figur sentral dalam pemerintahan Meiji saat itu. Mereka adalah:

  • Kido Takayoshi: Salah satu pemimpin utama Restorasi Meiji dari Choshu.
  • Okubo Toshimichi: Pemimpin karismatik dari Satsuma, dianggap sebagai salah satu arsitek utama Jepang modern.
  • Ito Hirobumi: Juga dari Choshu, kelak menjadi Perdana Menteri Jepang pertama dan merancang Konstitusi Meiji.
  • Yamaguchi Naoyoshi: Seorang pejabat senior.

Kelima orang ini adalah oligarki Meiji yang kelak akan memimpin Jepang selama beberapa dekade. Namun, misi ini tidak hanya terdiri dari para pemimpin ini. Ada sekitar 48 pejabat pemerintah dari berbagai kementerian dan departemen yang ikut serta. Ditambah lagi, ada juga sekitar 50 mahasiswa (baik laki-laki maupun perempuan, yang sangat revolusioner pada masanya) yang dikirim untuk belajar di luar negeri setelah misi ini selesai. Total anggota rombongan ini mencapai lebih dari 100 orang!

Mengirim begitu banyak pejabat penting dan calon intelektual ke luar negeri secara bersamaan menunjukkan betapa besar kepercayaan para pemimpin Meiji pada misi ini, meskipun itu berarti pemerintahan di Tokyo ditinggalkan oleh banyak figur kunci selama hampir dua tahun.

Tujuan Utama Misi: Belajar dan Bernegosiasi

Seperti disebutkan tadi, Misi Iwakura punya dua tujuan utama:

1. Negosiasi Ulang Perjanjian

Tujuan pertama dan yang paling mendesak adalah mencoba menegakkan kembali kedaulatan Jepang dengan merevisi perjanjian-perjanjian tidak setara. Para pemimpin Jepang berharap bisa meyakinkan negara-negara Barat untuk menghapus hak ekstrateritorialitas dan mengembalikan hak Jepang untuk menentukan tarif bea masuknya sendiri.

Namun, ini adalah misi yang sulit sejak awal. Jepang tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Mereka belum dianggap sebagai negara yang modern dan memiliki sistem hukum yang setara dengan Barat.

2. Observasi dan Pembelajaran

Tujuan kedua, yang ternyata menjadi lebih penting, adalah mengamati secara langsung peradaban dan sistem Barat. Para anggota misi diperintahkan untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang:

  • Industri dan Teknologi: Pabrik, tambang, rel kereta api, kapal uap, telegraf, dan segala macam teknologi modern. Mereka ingin melihat bagaimana negara-negara Barat memproduksi barang secara massal dan efisien.
  • Pemerintahan dan Politik: Konstitusi, sistem parlemen, badan legislatif, sistem hukum, dan struktur administrasi negara. Mereka ingin memahami bagaimana negara-negara Barat diorganisir dan diperintah.
  • Militer: Organisasi angkatan darat dan laut modern, teknologi militer, dan strategi pertahanan. Ini penting untuk keamanan nasional.
  • Pendidikan: Sistem sekolah, kurikulum, universitas. Mereka menyadari bahwa sumber daya manusia terdidik adalah kunci kemajuan.
  • Masyarakat dan Budaya: Kehidupan kota, infrastruktur (jalan, jembatan, sanitasi), sistem perbankan, layanan pos, bahkan kebiasaan sosial. Mereka ingin melihat apa yang membuat masyarakat Barat begitu produktif dan teratur.

Tujuan ini adalah tentang memahami akar kekuatan Barat, bukan hanya meniru teknologinya. Mereka ingin melihat seluruh sistem yang memungkinkan kemajuan tersebut.

Perjalanan Keliling Dunia yang Melelahkan

Perjalanan Misi Iwakura dimulai dari Yokohama pada 23 Desember 1871. Rute mereka sangat panjang dan melalui banyak negara penting:

  • Amerika Serikat: Ini adalah perhentian pertama dan terlama, mereka tinggal di AS selama beberapa bulan, mengunjungi kota-kota besar seperti San Francisco, Salt Lake City, Chicago, Washington D.C., dan New York. Mereka bertemu dengan Presiden Ulysses S. Grant.
  • Eropa: Setelah dari AS, mereka menyeberangi Atlantik dan tiba di Inggris. Inggris, sebagai kekuatan industri terbesar saat itu, menjadi perhentian penting. Kemudian mereka mengunjungi negara-negara lain di Eropa seperti Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, Denmark, Swedia, Italia, Austria, Swiss, dan Rusia.
  • Jalur Pulang: Dalam perjalanan pulang, mereka melalui Mediterania, melewati Terusan Suez, kemudian singgah di Ceylon (Sri Lanka), Singapura, Saigon (Vietnam), Hong Kong, dan Shanghai sebelum akhirnya tiba kembali di Jepang pada 13 September 1873.

Iwakura Mission Route Map
Image just for illustration

Bayangkan perjalanan selama hampir dua tahun di era itu, menggunakan kapal uap dan kereta api yang saat itu merupakan teknologi terkini. Ini jelas bukan perjalanan yang mudah, membutuhkan stamina dan ketahanan fisik serta mental yang luar biasa dari para pesertanya.

Apa yang Mereka Lihat dan Pelajari?

Di setiap negara yang dikunjungi, para anggota misi tidak hanya melakukan pertemuan diplomatik, tetapi juga menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi pabrik, galangan kapal, sekolah, universitas, parlemen, pengadilan, bank, dan berbagai institusi publik dan swasta lainnya. Mereka mengamati, mencatat, dan berdiskusi dengan para ahli dan pejabat setempat.

Di Amerika Serikat, mereka terkesan dengan sistem pendidikan publik yang luas dan semangat entrepreneurship. Mereka juga melihat pembangunan rel kereta api lintas benua yang menghubungkan Timur dan Barat, sebuah simbol kemajuan infrastruktur yang masif.

Di Inggris, pusat Revolusi Industri, mereka dibuat takjub oleh skala pabrik-pabrik tekstil di Manchester dan Birmingham, peleburan besi, dan galangan kapal. Mereka juga mempelajari sistem pemerintahan monarki konstitusional dan parlemen Inggris.

Di Jerman, mereka bertemu Otto von Bismarck dan mempelajari kekuatan militer Prusia serta sistem pendidikan tinggi dan sainsnya yang maju. Mereka juga melihat model negara industri yang didorong oleh kekuatan militer, yang kelak sangat memengaruhi pandangan Jepang.

Di Prancis, mereka mempelajari sistem birokrasi dan administrasi negara yang terpusat. Di negara-negara lain, mereka mengamati aspek-aspek berbeda dari peradaban Barat. Secara umum, mereka melihat bahwa kekuatan Barat tidak hanya berasal dari teknologi canggih, tetapi juga dari struktur sosial, politik, dan ekonomi yang terorganisir dengan baik, serta pendidikan yang merata. Mereka menyadari bahwa modernisasi harus bersifat holistik, mencakup segala aspek kehidupan bernegara.

Hasil dan Dampak Misi Iwakura

Sayangnya, tujuan pertama misi – negosiasi ulang perjanjian tidak setara – menemui kegagalan. Para pemimpin Barat menolak tuntutan Jepang dengan alasan Jepang belum memiliki sistem hukum dan institusi yang dianggap ‘beradab’ oleh standar Barat. Kegagalan ini menjadi pukulan, tetapi sekaligus pelajaran berharga. Para anggota misi menyadari bahwa Jepang harus memodernisasi dirinya secara fundamental terlebih dahulu sebelum bisa menuntut kesetaraan di mata hukum internasional.

Namun, tujuan kedua – pembelajaran dan observasi – sangat berhasil dan memberikan dampak yang luar biasa besar. Pengetahuan yang diperoleh selama perjalanan ini secara langsung membentuk arah kebijakan modernisasi Jepang selama beberapa dekade berikutnya.

Setelah kembali ke Jepang pada tahun 1873, para anggota misi ini, terutama Okubo Toshimichi dan Ito Hirobumi, menjadi kekuatan pendorong utama di balik reformasi Meiji.

  • Okubo Toshimichi, terkesan dengan industri Barat, mendirikan Kementerian Perindustrian (Kōbushō) dan memprakarsai pembangunan pabrik-pabrik model yang dikelola negara di berbagai sektor (pertambangan, tekstil, galangan kapal) untuk menstimulasi industrialisasi Jepang.
  • Ito Hirobumi, yang mempelajari konstitusi dan sistem pemerintahan di berbagai negara, kelak menjadi arsitek utama Konstitusi Meiji tahun 1889 dan memainkan peran kunci dalam pengembangan sistem pemerintahan modern Jepang.
  • Kido Takayoshi fokus pada reformasi pendidikan dan militer.

Pengalaman Misi Iwakura juga berperan penting dalam mengalahkan gerakan Seikanron (argumentasi untuk menyerbu Korea) yang sedang populer di Jepang saat itu. Para pemimpin yang kembali dari misi berpendapat bahwa Jepang belum cukup kuat untuk terlibat dalam petualangan militer di luar negeri. Mereka berkeras bahwa prioritas utama adalah penguatan internal melalui industrialisasi dan modernisasi. Debat sengit ini menyebabkan perpecahan dalam pemerintahan Meiji, tetapi pandangan para anggota misi yang kembali akhirnya menang, mengarahkan sumber daya Jepang untuk pembangunan domestik alih-alih ekspansi eksternal pada saat itu.

Mengapa Misi Iwakura Begitu Penting dalam Sejarah Jepang?

Misi Iwakura bukan hanya perjalanan diplomatik; ini adalah perjalanan pendidikan raksasa yang dilakukan oleh para pemimpin Jepang saat itu. Pentingnya misi ini terletak pada beberapa hal:

  1. Wawasan Langsung: Misi ini memberikan para pemimpin Jepang wawasan langsung tentang kekuatan Barat dan kompleksitasnya. Mereka melihat bahwa kekuatan itu bukan sekadar teknologi, melainkan juga sistem organisasi, hukum, pendidikan, dan mentalitas masyarakat.
  2. Pembentukan Kebijakan: Pengetahuan yang diperoleh secara langsung memengaruhi dan membentuk kebijakan-kebijakan kunci dalam Restorasi Meiji, dari industrialisasi, reformasi pendidikan, hingga pembentukan konstitusi dan sistem hukum.
  3. Prioritas Modernisasi: Kegagalan negosiasi perjanjian dan kesadaran akan kesenjangan kekuatan membuat Jepang memprioritaskan modernisasi internal di atas segalanya pada periode awal Meiji.
  4. Simbol Ambisi: Misi ini adalah simbol kuat dari ambisi Jepang untuk menjadi negara yang modern dan setara dengan kekuatan dunia, serta kesediaan mereka untuk belajar dan beradaptasi.

Misi Iwakura sering disebut sebagai salah satu faktor penentu yang memungkinkan Jepang mengejar ketertinggalan dari Barat dengan kecepatan luar biasa dan muncul sebagai kekuatan besar di Asia pada awal abad ke-20. Mereka tidak hanya mengimpor teknologi, tetapi mencoba mengadaptasi seluruh sistem yang membuat Barat kuat.

Fakta Menarik Lainnya

  • Misi ini didanai dengan jumlah yang sangat besar untuk zamannya, menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Jepang menganggap pentingnya misi ini.
  • Beberapa anggota misi, seperti Kido Takayoshi, mencatat pengalaman dan pengamatan mereka dalam buku harian yang kini menjadi sumber sejarah berharga.
  • Pengiriman siswa perempuan untuk belajar di luar negeri adalah langkah yang sangat berani dan progresif pada masa itu, menunjukkan pandangan jauh ke depan tentang pentingnya pendidikan untuk semua.

Misi Iwakura adalah bukti bahwa kepemimpinan yang visioner dan kemauan untuk belajar dari dunia luar, bahkan dari mereka yang dianggap sebagai pesaing atau ancaman, bisa menjadi kunci keberhasilan pembangunan sebuah bangsa. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua tahun itu benar-benar menjadi mata dan telinga bagi Jepang yang sedang berjuang menemukan jalannya di panggung dunia modern.


Misi Iwakura adalah babak yang sangat menarik dalam sejarah Jepang modern. Apa yang paling membuat Anda terkesan dari perjalanan luar biasa ini? Adakah fakta lain yang Anda ketahui tentang misi ini? Bagikan pandangan atau pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar