Uji Hipotesis: Panduan Lengkap, Tujuan, dan Contoh Simpelnya!

Table of Contents

Uji hipotesis adalah sebuah proses penting dalam statistika yang digunakan untuk mengambil keputusan tentang suatu klaim atau dugaan mengenai populasi, berdasarkan data sampel. Bayangkan kamu punya dugaan tentang sesuatu, misalnya “Rata-rata tinggi badan mahasiswa di kampus ini adalah 170 cm”. Nah, uji hipotesis ini adalah cara untuk menguji apakah dugaanmu itu didukung oleh data yang kamu kumpulkan, atau justru sebaliknya. Ini seperti detektif yang mencari bukti untuk memastikan apakah tersangka benar-benar bersalah atau tidak, tapi dalam dunia data!

Apa Sebenarnya Uji Hipotesis Itu?

Secara sederhana, uji hipotesis adalah metode untuk menentukan apakah bukti yang ada cukup kuat untuk menolak hipotesis nol (null hypothesis) dan mendukung hipotesis alternatif (alternative hypothesis). Hipotesis nol biasanya merupakan pernyataan default atau status quo, yang menyatakan tidak ada efek atau perbedaan. Sementara hipotesis alternatif adalah kebalikan dari hipotesis nol, yang menyatakan ada efek atau perbedaan yang signifikan.

Uji Hipotesis
Image just for illustration

Misalnya, dalam contoh tinggi badan mahasiswa tadi:

  • Hipotesis Nol (H0): Rata-rata tinggi badan mahasiswa di kampus adalah 170 cm. (Tidak ada perbedaan signifikan dari 170 cm)
  • Hipotesis Alternatif (H1): Rata-rata tinggi badan mahasiswa di kampus bukan 170 cm. (Ada perbedaan signifikan dari 170 cm)

Tujuan uji hipotesis adalah untuk memutuskan apakah kita memiliki cukup bukti untuk menolak H0 dan menerima H1. Kita menggunakan data sampel dan uji statistik untuk membuat keputusan ini. Penting diingat, uji hipotesis tidak membuktikan hipotesis alternatif benar secara mutlak, tetapi hanya menunjukkan apakah data mendukung hipotesis alternatif dengan cukup kuat untuk menolak hipotesis nol.

Langkah-Langkah Penting dalam Uji Hipotesis

Melakukan uji hipotesis itu seperti mengikuti resep, ada langkah-langkahnya agar hasilnya akurat dan valid. Berikut adalah langkah-langkah utama yang perlu kamu ikuti:

1. Merumuskan Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (H1)

Ini adalah langkah awal yang krusial. Kamu harus mendefinisikan dengan jelas apa yang ingin kamu uji. Hipotesis nol (H0) selalu merupakan pernyataan tentang tidak ada efek atau tidak ada perbedaan. Hipotesis alternatif (H1) adalah pernyataan yang ingin kamu buktikan, yang menyatakan ada efek atau perbedaan.

Contoh lain: Seorang peneliti ingin menguji apakah metode pembelajaran baru meningkatkan nilai ujian siswa.

  • H0: Metode pembelajaran baru tidak meningkatkan nilai ujian siswa. (Tidak ada efek)
  • H1: Metode pembelajaran baru meningkatkan nilai ujian siswa. (Ada efek positif)

2. Memilih Tingkat Signifikansi (Alpha - α)

Tingkat signifikansi, sering dilambangkan dengan α (alpha), adalah probabilitas menolak hipotesis nol ketika hipotesis nol sebenarnya benar (kesalahan Tipe I). Biasanya, tingkat signifikansi yang umum digunakan adalah 0.05 (5%), 0.01 (1%), atau 0.10 (10%).

Significance Level
Image just for illustration

Misalnya, jika kita memilih α = 0.05, ini berarti kita bersedia menerima risiko 5% untuk salah menolak hipotesis nol. Semakin kecil nilai alpha, semakin kecil risiko kesalahan Tipe I, tetapi juga semakin sulit untuk menolak hipotesis nol. Pemilihan tingkat signifikansi tergantung pada konteks penelitian dan konsekuensi dari kesalahan Tipe I. Dalam bidang medis, misalnya, tingkat signifikansi yang lebih kecil mungkin lebih disukai karena kesalahan menolak H0 (misalnya, menyatakan obat efektif padahal sebenarnya tidak) bisa memiliki konsekuensi serius.

3. Memilih Uji Statistik yang Tepat

Pemilihan uji statistik tergantung pada jenis data (misalnya, data kategorik atau numerik), jumlah sampel, dan asumsi tentang distribusi populasi. Ada berbagai jenis uji statistik yang tersedia, masing-masing dirancang untuk situasi yang berbeda.

Beberapa contoh uji statistik yang umum:

  • Uji-t: Digunakan untuk membandingkan rata-rata dua kelompok. Cocok untuk data numerik dan sampel kecil.
  • Uji-z: Mirip dengan uji-t, tetapi lebih cocok untuk sampel besar dan ketika standar deviasi populasi diketahui.
  • ANOVA (Analysis of Variance): Digunakan untuk membandingkan rata-rata lebih dari dua kelompok.
  • Chi-Square: Digunakan untuk menguji hubungan antara variabel kategorik.
  • Uji Korelasi: Digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel numerik.

Penting untuk memilih uji statistik yang sesuai dengan data dan pertanyaan penelitianmu. Jika kamu salah memilih uji statistik, hasil uji hipotesis bisa jadi tidak valid.

4. Menghitung Nilai Statistik Uji

Setelah memilih uji statistik yang tepat, langkah selanjutnya adalah menghitung nilai statistik uji berdasarkan data sampel. Nilai statistik uji ini adalah angka yang merangkum seberapa jauh data sampel menyimpang dari hipotesis nol. Rumus untuk menghitung nilai statistik uji berbeda-beda tergantung pada jenis uji statistik yang digunakan. Biasanya, perhitungan ini melibatkan perbandingan antara statistik sampel (misalnya, rata-rata sampel) dengan nilai yang diharapkan di bawah hipotesis nol.

5. Membuat Keputusan dan Menarik Kesimpulan

Langkah terakhir adalah membuat keputusan apakah akan menolak atau gagal menolak hipotesis nol. Keputusan ini didasarkan pada perbandingan antara nilai p (p-value) dengan tingkat signifikansi (α), atau dengan membandingkan nilai statistik uji dengan nilai kritis dari distribusi statistik yang sesuai.

  • Pendekatan Nilai-p: Nilai-p adalah probabilitas mendapatkan hasil sampel yang ekstrem atau lebih ekstrem dari yang diamati, jika hipotesis nol benar. Jika nilai-p lebih kecil dari atau sama dengan tingkat signifikansi (p ≤ α), kita menolak hipotesis nol. Ini berarti ada cukup bukti untuk mendukung hipotesis alternatif. Jika nilai-p lebih besar dari tingkat signifikansi (p > α), kita gagal menolak hipotesis nol. Ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol, bukan berarti hipotesis nol benar, tetapi hanya berarti data tidak memberikan bukti yang cukup kuat untuk menolaknya.

  • Pendekatan Nilai Kritis: Pendekatan ini melibatkan membandingkan nilai statistik uji yang dihitung dengan nilai kritis dari distribusi statistik yang relevan (misalnya, distribusi t, distribusi z, distribusi chi-square). Nilai kritis menentukan batas wilayah penolakan. Jika nilai statistik uji jatuh ke dalam wilayah penolakan, kita menolak hipotesis nol. Jika nilai statistik uji tidak jatuh ke dalam wilayah penolakan, kita gagal menolak hipotesis nol.

Setelah membuat keputusan, kita menarik kesimpulan berdasarkan konteks penelitian. Kesimpulan harus dinyatakan dengan jelas dan ringkas, dan menghubungkan kembali ke pertanyaan penelitian awal. Penting untuk menghindari klaim yang terlalu kuat. Misalnya, jika kita menolak hipotesis nol, kita tidak bisa mengatakan bahwa hipotesis alternatif “terbukti benar”, tetapi hanya mengatakan bahwa “ada cukup bukti untuk mendukung hipotesis alternatif pada tingkat signifikansi α”.

Jenis-Jenis Uji Hipotesis yang Perlu Kamu Tahu

Uji hipotesis itu luas, ada berbagai jenisnya tergantung pada arah pengujian dan jenis data yang digunakan. Berikut beberapa jenis uji hipotesis yang umum:

1. Uji Hipotesis Satu Sisi (One-Tailed Test) dan Dua Sisi (Two-Tailed Test)

Perbedaan utama antara uji satu sisi dan dua sisi terletak pada arah hipotesis alternatif.

  • Uji Dua Sisi (Two-Tailed Test): Digunakan ketika hipotesis alternatif tidak menentukan arah perbedaan. Kita hanya ingin tahu apakah ada perbedaan signifikan, tanpa peduli apakah perbedaan itu lebih besar atau lebih kecil dari nilai hipotesis nol. Contoh hipotesis alternatif dua sisi: “Rata-rata tinggi badan mahasiswa bukan 170 cm.” Wilayah penolakan dalam uji dua sisi terletak di kedua ujung distribusi.

Two Tailed Test
Image just for illustration

  • Uji Satu Sisi (One-Tailed Test): Digunakan ketika hipotesis alternatif menentukan arah perbedaan. Kita tertarik untuk mengetahui apakah perbedaan itu lebih besar dari atau lebih kecil dari nilai hipotesis nol. Contoh hipotesis alternatif satu sisi: “Rata-rata tinggi badan mahasiswa lebih besar dari 170 cm” (uji sisi kanan) atau “Rata-rata tinggi badan mahasiswa kurang dari 170 cm” (uji sisi kiri). Wilayah penolakan dalam uji satu sisi terletak di salah satu ujung distribusi, tergantung pada arah hipotesis alternatif.

One Tailed Test
Image just for illustration

Kapan menggunakan uji satu sisi atau dua sisi? Uji dua sisi lebih umum digunakan karena lebih konservatif dan tidak berasumsi arah perbedaan sebelumnya. Uji satu sisi hanya boleh digunakan jika ada alasan teoritis atau empiris yang kuat untuk mengharapkan perbedaan hanya dalam satu arah. Penggunaan uji satu sisi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kesalahan Tipe I.

2. Uji Hipotesis Parametrik dan Non-Parametrik

Jenis uji hipotesis juga dibedakan berdasarkan asumsi tentang distribusi data populasi.

  • Uji Parametrik: Uji parametrik mengasumsikan data populasi mengikuti distribusi tertentu, biasanya distribusi normal. Uji parametrik lebih kuat (memiliki kekuatan statistik yang lebih tinggi) dibandingkan uji non-parametrik jika asumsi distribusi terpenuhi. Contoh uji parametrik: Uji-t, Uji-z, ANOVA.

  • Uji Non-Parametrik: Uji non-parametrik tidak membuat asumsi ketat tentang distribusi data populasi. Uji non-parametrik lebih robust (kurang sensitif terhadap pelanggaran asumsi) dan dapat digunakan ketika asumsi distribusi normal tidak terpenuhi atau ketika data bersifat ordinal atau nominal. Contoh uji non-parametrik: Uji Mann-Whitney U, Uji Wilcoxon Signed-Rank, Uji Kruskal-Wallis, Uji Chi-Square untuk independensi.

Memilih antara uji parametrik dan non-parametrik tergantung pada karakteristik data dan apakah asumsi uji parametrik terpenuhi. Jika data memenuhi asumsi uji parametrik, uji parametrik biasanya lebih disukai karena lebih kuat. Namun, jika asumsi tidak terpenuhi atau data tidak sesuai untuk uji parametrik, uji non-parametrik adalah alternatif yang baik.

3. Beberapa Contoh Uji Statistik Populer

Berikut adalah beberapa uji statistik yang sering digunakan dalam uji hipotesis:

  • Uji-t (t-test):

    • Uji-t sampel tunggal: Menguji apakah rata-rata sampel berbeda secara signifikan dari nilai populasi yang diketahui atau nilai hipotesis tertentu.
    • Uji-t sampel berpasangan: Menguji apakah perbedaan rata-rata antara dua pengukuran berpasangan (misalnya, sebelum dan sesudah perlakuan) signifikan.
    • Uji-t sampel independen: Menguji apakah rata-rata dua kelompok independen berbeda secara signifikan.
  • Uji-z (z-test): Mirip dengan uji-t, tetapi biasanya digunakan untuk sampel besar atau ketika standar deviasi populasi diketahui.

  • ANOVA (Analysis of Variance): Digunakan untuk membandingkan rata-rata lebih dari dua kelompok. ANOVA menguji apakah ada setidaknya satu perbedaan signifikan antara rata-rata kelompok.

  • Uji Chi-Square (Chi-Square Test):

    • Uji Chi-Square goodness-of-fit: Menguji apakah distribusi frekuensi sampel kategorik sesuai dengan distribusi frekuensi teoritis atau yang diharapkan.
    • Uji Chi-Square independensi: Menguji apakah dua variabel kategorik independen satu sama lain.
  • Uji Korelasi (Correlation Test): Menguji apakah ada hubungan linier antara dua variabel numerik dan mengukur kekuatan serta arah hubungan tersebut (misalnya, korelasi Pearson, korelasi Spearman).

Mengapa Uji Hipotesis Sangat Penting?

Uji hipotesis bukan hanya sekadar alat statistik yang rumit, tapi punya peran krusial dalam berbagai bidang. Berikut beberapa alasan mengapa uji hipotesis itu penting:

1. Mendukung Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Dalam dunia yang semakin dipenuhi data, pengambilan keputusan yang baik harus didasarkan pada bukti yang kuat. Uji hipotesis memberikan kerangka kerja yang sistematis dan objektif untuk menganalisis data dan mengambil keputusan yang terinformasi. Dengan uji hipotesis, kita bisa menghindari keputusan yang hanya berdasarkan intuisi atau asumsi, dan beralih ke keputusan yang didukung oleh data dan analisis statistik yang valid.

2. Memvalidasi Teori dan Penelitian Ilmiah

Dalam penelitian ilmiah, uji hipotesis adalah pilar utama untuk memvalidasi teori dan klaim penelitian. Ilmuwan menggunakan uji hipotesis untuk menguji hipotesis penelitian mereka dan menentukan apakah hasil penelitian mereka signifikan secara statistik. Uji hipotesis membantu membedakan antara temuan kebetulan (yang mungkin terjadi karena variasi sampel acak) dan temuan yang benar-benar mencerminkan efek atau hubungan yang nyata dalam populasi. Validasi melalui uji hipotesis meningkatkan kredibilitas dan keandalan penelitian ilmiah.

3. Meningkatkan Kualitas dan Efektivitas dalam Berbagai Bidang

Uji hipotesis diterapkan secara luas di berbagai bidang, seperti:

  • Bisnis dan Pemasaran: Menguji efektivitas kampanye pemasaran, membandingkan preferensi konsumen terhadap produk yang berbeda, menganalisis tren penjualan.
  • Kesehatan dan Kedokteran: Menguji efektivitas obat baru, membandingkan metode pengobatan yang berbeda, mengidentifikasi faktor risiko penyakit.
  • Pendidikan: Menguji efektivitas metode pembelajaran baru, membandingkan kinerja siswa dari kelompok yang berbeda, mengevaluasi program pendidikan.
  • Ilmu Sosial: Menganalisis opini publik, mempelajari perilaku sosial, menguji teori psikologi.
  • Teknik dan Manufaktur: Mengontrol kualitas produk, mengoptimalkan proses produksi, membandingkan kinerja material yang berbeda.

Dengan menggunakan uji hipotesis, organisasi dan profesional di berbagai bidang dapat meningkatkan kualitas produk dan layanan, mengoptimalkan proses, mengambil keputusan yang lebih efektif, dan pada akhirnya mencapai hasil yang lebih baik.

Contoh Uji Hipotesis dalam Kehidupan Sehari-hari

Meskipun terdengar rumit, konsep uji hipotesis sebenarnya sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa kita sadari. Berikut beberapa contoh sederhana:

1. Menguji Klaim Iklan

Misalnya, sebuah iklan minuman energi mengklaim bahwa minuman tersebut “meningkatkan fokus dan konsentrasi secara signifikan”. Sebagai konsumen yang cerdas, kita bisa menguji klaim ini secara informal dengan mencoba minuman tersebut dan melihat apakah kita benar-benar merasa lebih fokus. Ini adalah bentuk sederhana dari uji hipotesis, di mana hipotesis nolnya adalah “minuman energi tidak meningkatkan fokus”, dan hipotesis alternatifnya adalah “minuman energi meningkatkan fokus”. Tentu saja, pengujian informal ini tidak seakurat uji hipotesis statistik yang formal, tetapi intinya sama: kita mencoba mencari bukti untuk mendukung atau menolak klaim tertentu.

2. Membandingkan Dua Produk

Kamu bingung memilih antara dua merek kopi yang berbeda. Kamu mencoba kedua merek tersebut beberapa kali dan membandingkan rasa, aroma, dan efeknya. Secara tidak langsung, kamu sedang melakukan uji hipotesis untuk melihat apakah ada perbedaan signifikan antara kedua merek kopi tersebut. Hipotesis nolnya mungkin “tidak ada perbedaan rasa antara merek A dan merek B”, dan hipotesis alternatifnya “ada perbedaan rasa antara merek A dan merek B”.

3. Mengevaluasi Metode Belajar Baru

Seorang siswa mencoba metode belajar baru untuk persiapan ujian. Setelah menggunakan metode tersebut, ia membandingkan nilai ujiannya dengan nilai ujian sebelumnya. Jika nilainya meningkat secara signifikan, ia mungkin menyimpulkan bahwa metode belajar baru tersebut efektif. Ini adalah bentuk uji hipotesis informal untuk mengevaluasi efektivitas suatu intervensi.

4. Menentukan Apakah Koin Adil (Fair)

Kita ingin memastikan apakah sebuah koin adil atau tidak (peluang muncul gambar dan angka sama). Kita melempar koin tersebut beberapa kali dan mencatat hasilnya. Jika kita mendapatkan jumlah gambar dan angka yang hampir sama, kita mungkin menyimpulkan bahwa koin tersebut adil. Jika ada perbedaan yang signifikan, kita mungkin mencurigai koin tersebut tidak adil. Ini adalah contoh klasik uji hipotesis untuk menguji proporsi atau peluang.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa prinsip uji hipotesis ada di sekitar kita, membantu kita membuat keputusan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti, baik secara formal maupun informal.

Kesalahan Umum dalam Uji Hipotesis dan Cara Menghindarinya

Meskipun uji hipotesis adalah alat yang ampuh, penting untuk menghindari kesalahan umum yang dapat membuat hasil uji tidak valid atau menyesatkan. Berikut beberapa kesalahan umum dan tips untuk menghindarinya:

1. Kesalahan Tipe I dan Kesalahan Tipe II

  • Kesalahan Tipe I (False Positive): Menolak hipotesis nol padahal hipotesis nol sebenarnya benar. Probabilitas kesalahan Tipe I sama dengan tingkat signifikansi (α). Cara menghindari: Pilih tingkat signifikansi yang sesuai (misalnya, α = 0.05) dan interpretasikan nilai-p dengan hati-hati. Jangan langsung menolak hipotesis nol hanya karena nilai-p sedikit di bawah α.

  • Kesalahan Tipe II (False Negative): Gagal menolak hipotesis nol padahal hipotesis nol sebenarnya salah. Probabilitas kesalahan Tipe II dilambangkan dengan β (beta), dan kekuatan statistik (power) adalah 1 - β. Cara menghindari: Pastikan ukuran sampel cukup besar untuk mendeteksi efek yang signifikan jika memang ada. Tingkatkan kekuatan statistik dengan meningkatkan ukuran sampel atau menggunakan uji statistik yang lebih kuat (jika memungkinkan).

Type I and Type II Errors
Image just for illustration

2. Memilih Uji Statistik yang Tidak Tepat

Kesalahan umum lainnya adalah menggunakan uji statistik yang tidak sesuai dengan jenis data, asumsi, atau pertanyaan penelitian. Cara menghindari: Pahami asumsi setiap uji statistik dan pilih uji yang paling sesuai dengan data dan desain penelitianmu. Jika ragu, konsultasikan dengan ahli statistik atau gunakan sumber daya online untuk membantu memilih uji statistik yang tepat.

3. Interpretasi Nilai-p yang Salah

Nilai-p sering disalahartikan sebagai probabilitas hipotesis nol benar, atau probabilitas hasil penelitian terjadi secara kebetulan. Interpretasi yang benar: Nilai-p adalah probabilitas mendapatkan hasil sampel yang ekstrem atau lebih ekstrem dari yang diamati, jika hipotesis nol benar. Cara menghindari: Pahami definisi nilai-p dengan benar. Jangan mengartikan nilai-p sebagai ukuran kekuatan efek atau pentingnya praktis temuan. Laporkan nilai-p bersama dengan ukuran efek dan interval kepercayaan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang hasil penelitian.

4. Data Dredging (P-Hacking)

Data dredging atau p-hacking adalah praktik melakukan banyak uji hipotesis pada data yang sama tanpa penyesuaian, dengan tujuan untuk menemukan hasil yang signifikan secara statistik secara kebetulan. Ini dapat meningkatkan risiko kesalahan Tipe I dan menghasilkan temuan yang palsu positif. Cara menghindari: Rumuskan hipotesis penelitian sebelum mengumpulkan data. Hindari melakukan banyak uji hipotesis tanpa justifikasi teoritis yang kuat. Jika melakukan banyak uji, gunakan koreksi untuk multiple comparisons (misalnya, koreksi Bonferroni) untuk mengontrol tingkat kesalahan keseluruhan. Laporkan semua hasil uji, baik signifikan maupun tidak signifikan, untuk menghindari bias publikasi.

Tips Melakukan Uji Hipotesis yang Efektif

Untuk memastikan uji hipotesis yang kamu lakukan akurat, valid, dan bermanfaat, berikut beberapa tips penting:

  1. Rumuskan Hipotesis yang Jelas dan Spesifik: Hipotesis yang baik harus terukur, dapat diuji, dan relevan dengan pertanyaan penelitianmu.
  2. Pilih Ukuran Sampel yang Cukup: Ukuran sampel yang terlalu kecil dapat mengurangi kekuatan statistik dan meningkatkan risiko kesalahan Tipe II. Gunakan perhitungan kekuatan statistik untuk menentukan ukuran sampel yang memadai.
  3. Kumpulkan Data yang Berkualitas: Data yang tidak akurat atau bias dapat merusak hasil uji hipotesis. Pastikan metode pengumpulan data valid dan reliabel.
  4. Periksa Asumsi Uji Statistik: Setiap uji statistik memiliki asumsi tertentu tentang data. Verifikasi asumsi-asumsi ini sebelum menerapkan uji statistik. Jika asumsi tidak terpenuhi, pertimbangkan transformasi data atau gunakan uji non-parametrik.
  5. Gunakan Perangkat Lunak Statistik: Perangkat lunak statistik seperti R, SPSS, atau Python dapat mempermudah perhitungan dan analisis data untuk uji hipotesis.
  6. Interpretasikan Hasil dengan Hati-hati dan Kontekstual: Jangan hanya fokus pada nilai-p. Pertimbangkan ukuran efek, interval kepercayaan, dan konteks penelitian saat menarik kesimpulan. Hindari klaim yang terlalu kuat dan akui keterbatasan penelitian.
  7. Dokumentasikan Semua Langkah: Dokumentasikan semua langkah uji hipotesis, termasuk hipotesis, uji statistik yang digunakan, nilai-p, ukuran efek, dan kesimpulan. Dokumentasi yang baik meningkatkan transparansi dan reproduktibilitas penelitian.

Dengan mengikuti tips ini dan menghindari kesalahan umum, kamu dapat memanfaatkan uji hipotesis secara efektif untuk mengungkap kebenaran di balik data dan membuat keputusan yang lebih baik.

Uji hipotesis memang terlihat kompleks pada awalnya, tapi dengan pemahaman yang baik tentang konsep dan langkah-langkahnya, kamu bisa menggunakan alat statistik ini untuk menjawab berbagai pertanyaan dan membuat keputusan yang lebih terinformasi. Jangan ragu untuk terus belajar dan berlatih, karena uji hipotesis adalah skill yang sangat berharga di era data ini!

Bagaimana menurutmu? Apakah artikel ini membantumu memahami uji hipotesis dengan lebih baik? Yuk, bagikan pendapatmu atau pertanyaanmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar